Emas Kehilangan Momentum, Masa Kejayaan sudah Berakhir?

Emas

Harga emas perlahan membaik setelah sempat jatuh. Namun, sang logam mulia diyakini telah kehilangan momentum terbaiknya untuk melonjak sebelum rapat penting moneter pekan depan.

Pada penutupan perdagangan Senin (24/4/2023), emas ditutup di posisi US$ 1.988,88 per troy ons. Harga sang logam mulia menguat 0,31%.

Penguatan juga memutus performa negatif emas yang anjlok 1,1% pada Jumat pekan lalu.

Harga emas juga masih menguat pada pagi hari ini. Pada perdagangan hari ini, Selasa (25/4/2023) pukul 07:20 WIB, harga emas ada di posisi US$ 1993,78 per troy ons. Harganya menguat 0,25%.

Analis Ridge Futures, David Meger, mengatakan pelaku emas kini tengah melakukan test pasar dalam jangka pendek.

Mereka baru akan melakukan pergerakan besar setelah data-data ekonomi Amerika Serikat (AS) keluar.

Pada pekan ini, AS akan merilis sejumlah data penting mulai dari pertumbuhan ekonomi, indeks keyakinan konsumen, hingga pengeluaran warga AS untuk belanja.

Data-data ini akan menjadi pegangan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) pada rapat 2-3 Mei mendatang.

“Pasar tengah melakukan tes pasar sambal menunggu data ekonomi terbaru. Data tersebut berpotensi membawa pergerakan emas ke satu titik atau malah sebaliknya,” tutur Meger, dikutip dari Reuters.

CME FedWatch tool kini menunjukkan pasar bertaruh 91% jika The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps.

Analis dari Kinesis Money, Rupert Rowling, mengatakan emas telah kehilangan momentum untuk terus merangkak melewati US$ 2.000 per troy ons.
Padahal, emas terus bertahan di level US$ 2.000 per troy ons pada awal hingga pertengahan April 2023.

“Butuh katalis baru bagi emas untuk bisa menembus ke atas US$ 2.000 per troy ons. Namun, emas sepertinya juga masih sulit turun ke bawah US$ 1.950 per troy ons dalam jangka pendek saat ini,” tutur Rowling, dikutip dari Reuters.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*